Dermatitis Atopik

Definisi

Penyakit kulit kronik herediter berbentuk eksema yang dapat timbul pada semua usia disebabkan riwayat keluarga asma/ rhinitis atopik, iritasi oleh wol, air, sabun keras, cuaca, stres, infeksi, kadar IgE serum total yg tinggi dan reaksi uji kulit majemuk positif yg timbulnya cepat dengan tanda bintik merah disertai gatal, hangat, dan tidak demam mencakup seluruh badan.(Karneen, imunologi dasar)

Patologi

Inflamasi merupakan salah satu reaksi tubuh yang bersifat preventif dan merupakan proses homeostatis yg kompleks. Apabila respon tersebut terjadi segera dalam waktu singkat setelah terjadi gangguan jaringan maka disebut respon inflamsi akut, tetapi apabila respon inflamasi timbul sebagai akibat infeksi patogen yg persisten maka disebut respon inflamasi kronik. Respon inflamasi akut terdiri dari respon imun bawaan(non spesifik) dan respon imun dapatan(spesifik) seperti Ab (Lucia EW, farmakologi)


Hipersensitivitas tipe1 terjadi pada subjek yng memiliki respon sel Th2 terhadap antigen lebih dominan dibandingkan sel Th1. Materi Ag secara normal tidak merugikan seperti polen, debu, makanan dan obat tertentu. Antigen merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T. IgE diikat oleh sel mast/basofil melalui resetor Fcc. Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yg sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yg sudah ada pada permukaan sel mast/basofil. Akibat ikatan antigen x IgE, sel mast/basofil mengalami degrenulasi dan melepas mediator yg performed shg menimbulkan reaksi hipersensitivitas tipe1 seperti histamin, sitokin, PAF, eosinofil. Reaksi yg terjadi dapat berupa eritem dan bentol/edem selam 15menit. Pada fase aktivasi terjadi perubahan dalam membran sel mast akibat metilasi fosfolipid yg diikuti influks Ca2+ sehingga fosfolipase aktif, E dilepas akibat glikolisis, enzim aktif dan menggerakkan granul ke permukaan sel. Kadar cAMP-cGMP mempengaruhi degranulasi. cAMP akan mencegah sedangkan cGMP memacu degranulasi yg tidak menimbulkan lisis. Efek akan timbul secara lokal di hidung-> hay fever, bronkus-> asma, kulit-> urtikaria dkk, seluruh tubuh-> syok anfilaktik.

Jadi, hubungan Ab dengan sel mastosit dan basofil yaitu sel mastosit dan basofil memiliki reseptor membran khusus IgE yg notabenenya adalah Ab ( Karneen, imunologi dasar)

Sel Th2 berkaitan dengan respon humoral dirangsang oleh Ab yang memproduksi sitokin: IL4, TGF-B, IL10 yang berfungsi sebagai anti inflamasi oleh karena mengginhibisi ktivasi sel inflamasi yang diinduksi sel TH1 dan secara keseluruhan memiliki efek (Lucia EW, farmakologi)

  1. stimulasi ploriferasi sel B
  2. stimulasi defernsiasi dan aktivasi eosinofil
  3. inhibisi fungsi sel Th1

Antibodi terdiri dari 5kelas yaitu

Ig G : Ig sekunder terdapat dalam cairan tubuh sehingga dapat menembus plasma

Ig A : untuk sekresi terdapat di kulit

Ig M : Ig primer bersifat aglutinin

Ig E : berperan dalam reaksi alergi atau infeksi

IG D : terdapat pada permukaan limfosit

Dermatitis atopik termasuk dalam reaksi alergi tipe1 dimana alergen yg masuk dalam tubuh menimbulkan respon imun berupa produksi IgE berupa fase:

1. fase sensitisasi yaitu waktu yg dibutuhkan untuk pembentukan igE sampai diikatnya reseptor spesifik Fcc-R pada permukaan sel mast dan basofil

2. fase aktivasi yaitu waktu antara pajanan ulang dengan antigen yg spesifik dan sel mast yg melepas isinya bergranul

3. fase efektor yaitu waktu terjadi respon kompleks (anafilatoksis) sebagai efek mediator yg dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik.


Gejala/tanda

Bermnifestasi sebagai bercak basah, erosi, dan eritematosa di tempat yg tertutup popok, pipi, dan kuit kepala. Karena erupsi ini gatal, maka bayi sering rewel. Infeksi sekunder oleh bakteri sering terjadi. Umumnya eksema ini akan menghilang secara spontan, tapi bisa juga berkembang sampai dewasa. Semua pasien mempunyai keluhan yang sama yaitu pruritus.Pada anak/dewasa terkena pada poplitea, fosa antekubiti, leher, dan daerah lipatan lain. Perubahan eksema menjadi merata di seluruh tubuh pada orang dewasa. Pasien ini dianjurkan untuk tidak mendapat vaksinasi cacar karena akan mengakibatkan vaksinia desminata.


Penatalaksanaan

  • Jaga kelembaban kulit dengan salep/krim/lotion
  • Kompres bintil hangat dengan air dingin
  • Pembatasan diet susu, sapi, gandum, telur pada bayi
  • Antibiotik mengobati infeksi sekunder oleh bakteri
  • Menghindari obatan kortikosteroid penyebab gatal seperti antihistamin
  • Menghindari keringat berlebih, stress, pakaian gatal berbahan wol, sabun keras, makanan alergen
  • PUVA gabungan UV A dan UV B
  • Terapi baru dengan siklosporin, takrolimus, pimekrolimus
  • Interferon dan fototerapi

Tes penunjang

Tes kulit PRICK test untuk tipe1

PATCH test untuk hipersensitivitas tipe

4 komentar:

Anonim mengatakan...

nice info!!

wahh....saya tertarik sama bhsan ini karna saya mengidap DA,ada ym tidak?blh saya tw ymnya bila ada?trima kasih ^^

-ghighi-

Dinda mengatakan...

ada yahoo messengernya...
www.dinda_0205@yahoo.com
Oh ya, terima kasih ya atas kunjungannya....

Achie mengatakan...

halo... terima kasih infonya..
boleh sy ikut add ym-nya? anak saya usia 3 tahun jg dideteksi mengidap DA oleh dokter kulitnya..
kalau boleh saya ingin share...

-Asri-

Dinda mengatakan...

Iya boleh saja...